Sejarah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau

Sejarah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau – Gunung Krakatau adalah salah satu gunung berapi paling terkenal di dunia. Terletak di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra, Krakatau menjadi simbol dari kekuatan alam yang luar biasa. Letusan dahsyatnya pada tahun 1883 tidak hanya mengguncang Nusantara, tetapi juga meninggalkan jejak besar dalam sejarah dunia. Ledakan itu disebut-sebut sebagai salah satu bencana alam paling hebat yang pernah tercatat dalam peradaban manusia.

Artikel ini akan mengulas kisah tragis sekaligus menarik tentang sejarah letusan Gunung Krakatau, dampaknya yang luas, serta kebangkitan baru sang gunung api yang kini dikenal sebagai Anak Krakatau.


Asal Usul dan Kondisi Geologi Krakatau

Gunung Krakatau merupakan bagian dari rangkaian Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), wilayah yang dikenal aktif secara vulkanik dan seismik. Sebelum letusan besar tahun 1883, Pulau Krakatau sebenarnya terdiri dari tiga gunung berapi utama, yaitu Rakata, Danan, dan Perbuatan.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Krakatau sudah beberapa kali meletus sebelum abad ke-19. Letusan pertama yang tercatat terjadi pada tahun 416 Masehi, berdasarkan naskah kuno Jawa yang menyebutkan adanya “gunung meletus hingga langit menjadi gelap.” Namun, aktivitas besar Krakatau yang paling mematikan baru terjadi ribuan tahun kemudian, pada 26–27 Agustus 1883.


Letusan 1883: Ledakan yang Mengubah Dunia

Letusan Krakatau pada tahun 1883 dianggap sebagai salah satu letusan gunung berapi paling dahsyat dalam sejarah modern.

Pada 26 Agustus 1883, gunung mulai menunjukkan aktivitas tinggi dengan suara gemuruh dan lontaran abu vulkanik yang mencapai ketinggian puluhan kilometer. Namun, keesokan harinya, tepatnya 27 Agustus 1883, terjadi empat ledakan besar secara beruntun — ledakan ketiga menjadi yang paling kuat, bahkan terdengar hingga jarak 4.800 kilometer, termasuk di Australia dan Pulau Rodrigues di Samudra Hindia.

Suara ledakan tersebut disebut sebagai suara paling keras yang pernah terdengar oleh manusia. Tekanan udara yang dihasilkan dari letusan itu tercatat tiga kali mengelilingi bumi.

Gelombang kejut dan tsunami setinggi lebih dari 40 meter menghantam pesisir Jawa dan Sumatra, menenggelamkan ratusan desa. Diperkirakan lebih dari 36.000 jiwa meninggal dunia, menjadikannya salah satu bencana alam paling mematikan di Asia Tenggara.


Dampak Global dari Letusan Krakatau

Letusan Krakatau tidak hanya menimbulkan dampak lokal, tetapi juga mengubah kondisi iklim global. Abu vulkanik yang terlontar ke atmosfer menyebar ke seluruh dunia dan menghalangi sinar matahari. Akibatnya, suhu rata-rata bumi turun hingga 1,2°C selama beberapa tahun setelah letusan.

Langit di berbagai negara berubah warna menjadi merah keunguan pada sore hari, fenomena yang bahkan terekam dalam karya seni terkenal, seperti lukisan “The Scream” karya Edvard Munch, yang dipercaya terinspirasi oleh langit pasca letusan Krakatau.

Gelombang laut raksasa juga mengubah peta wilayah Selat Sunda. Pulau Krakatau asli hancur dan tenggelam, menyisakan sebagian kecil dari Gunung Rakata yang masih berdiri hingga kini.


Lahirnya Anak Krakatau

Lebih dari 40 tahun setelah letusan besar, tepatnya pada 29 Desember 1927, muncul gunung berapi baru di lokasi bekas letusan Krakatau. Gunung ini kemudian dinamai Anak Krakatau, yang berarti “anak dari Krakatau.”

Sejak kemunculannya, Anak Krakatau terus tumbuh dengan kecepatan sekitar 4–5 meter per tahun. Aktivitas vulkaniknya cukup sering, namun tidak sebesar letusan pendahulunya di abad ke-19.

Meskipun ukurannya jauh lebih kecil, Anak Krakatau tetap menjadi objek penelitian penting bagi para ahli vulkanologi dari seluruh dunia. Gunung ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana bumi memulihkan diri setelah bencana besar.


Warisan Ilmiah dan Budaya

Letusan Krakatau 1883 meninggalkan warisan besar, bukan hanya dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam budaya populer. Sejak peristiwa itu, Krakatau menjadi simbol kekuatan alam yang tak tertandingi.

Berbagai film, dokumenter, dan buku telah dibuat untuk mengenang tragedi tersebut, seperti “Krakatoa: The Last Days” (2006) dan karya klasik “Krakatoa: The Day the World Exploded” oleh Simon Winchester.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga menjadikan kawasan sekitar Krakatau sebagai cagar alam dan destinasi wisata edukatif. Wisatawan bisa mengunjungi Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang yang menjadi sisa-sisa letusan besar dulu. Dari sana, pengunjung dapat melihat langsung Anak Krakatau yang masih aktif hingga hari ini.


Kesimpulan

Sejarah letusan Gunung Krakatau adalah pengingat betapa dahsyatnya kekuatan alam. Dalam sekejap, gunung yang tampak tenang bisa melepaskan energi luar biasa yang mengubah wajah bumi.

Namun, dari kehancuran itu juga lahir kehidupan baru — Anak Krakatau — simbol dari kebangkitan dan siklus abadi alam semesta. Kisah Krakatau tidak hanya menyimpan tragedi, tetapi juga pelajaran penting tentang keseimbangan alam, ketahanan manusia, dan kekaguman terhadap misteri bumi yang terus hidup dan bergerak.

Scroll to Top